Apa itu Djembe ?
Jimbe atau Djembe adalah merupakan salah satu alat musik perkusi
ritmik yang populer di dunia masa kini. Alat perkusi ini dimainkan oleh
lintas kalangan, dari mulai anak-anak hingga dewasa. Bahkan kini juga
dikreasikan sebagai sebagai sebuah kerajinan tangan dalam banyak ukuran
dan motif, sebagian produknya berkualitas ekspor. Seperti di Tuban
(Jawa Timur), Kasongan (Yogyakarta) dan di beberapa daerah lainnya di
Indonesia.
Salah satu yang unik dari jimbe adalah dalam pola-pola ritme
permainannya, ada yang konstan, ada yang ditabuh hingga bergemuruh,
berbunyi tajam, bahkan dapat berbunyi sangat treble dan gaduh yang
seolah-olah dapat membangkitkan energi spiritual dari ritual-ritual
primitif masa lalu.
Menurut salah seorang penelti alat musik, jimbe adalah hasil kreasi
orang di Sierra Leone, Afrika. Cikal bakal jimbe adalah Sangba dan
memang benar dari tempat alat musik ini berasal ternyata penyebarannya
tidak menyeluruh di benua Afrika. Ada banyak nama untuk alat musik
berjenis seperti ini, di antaranya sangba, yimbei, jimberu, bata, tapoi
dan lainnya. Masing-masing dari alat musik ini dimainkan oleh
kelompok-kelompok, orang-orang ataupun suku-suku yang berbeda pula.
Di daerah Mali misalnya, jimbe dipergunakan hanya pada malam hari
untuk berbagai perayaan, misalnya menyambut bulan purnama, datangnya
musim semi, musim panas, musim panen, musim dingin, perkawinan,
pembaptisan dan lain sebagainya.
Pola-pola ritme dalam memainkannya pun memiliki nama-nama
tersendiri. Antara lain : Djagbe, Yangkadi-Makru, Marakadon, Mendjani,
Moribayasa, Kasa, Garangedon. Selain di Mali alat musik perkusi sejenis
jimbe juga ditemukan di Senegal, Guinee, Gambia, Ivory Coast dan
wilayah lain khususnya di Afrika Barat. Dan mereka yang membudayakan di
namakan Kasta Griot yaitu kasta penjaga kebudayaan musik yang utama,
selain kasta pandai besi.
Konon nama djembe diambil dari pohon djem yang banyak ditemukan di
Mali, Afrika. Pohon Djem adalah merupakan bahan dasar untuk membuat
Djembe, setelah pohon ditebang batang pohon tersebut dibentuk
menyerupai piala, lantas dilubangi, dan diukir sedemikian rupa. Konon
menebang pohonnya pun dibarengi dengan ritual khusus dan tentunya
menggunakan kayu dari pohon djem pilihan.
Membran sebagai sumber bunyinya bisa menggunakan kulit kambing,
kerbau ataupun antelop. Teknik merenggangkannya pun khusus, setelah
melalui proses pengeringan yang cukup membran atau kulit tersebut
diikatkan kencang dengan tali di selingkar badan kayunya. Di Amerika,
Belgia, Jerman, Perancis dan di beberapa negara lainnya terdapat
sekolah djembe, yang mendatangkan guru-guru langsung dari negara
asalnya. Semoga Indonesia sudah ada sekolah jimbe, di karenakan
aktifitas “djembe fola” telah menyebar di pelosok negeri ini.








0 comments:
Post a Comment